Beberapa tahun terakhir, banyak pekerja di Indonesia merasa hidup di dua dunia sekaligus. Di satu sisi, kita masih bergulat dengan persoalan klasik: birokrasi yang lambat, kesenjangan kompetensi, dan budaya kerja yang hierarkis. Di sisi lain, kita tiba-tiba harus berhadapan dengan AI, kerja jarak jauh, otomatisasi, dan tuntutan global yang tak sabar menunggu. Dunia kerja Indonesia tidak sedang “menuju masa depan”—ia sudah tercebur ke dalamnya, sering kali tanpa pelampung.

Dalam konteks inilah Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menjadi relevan, bukan sebagai ramalan futuristik, tetapi sebagai cermin. Laporan tersebut menyebutkan bahwa sebagian besar skill yang dibutuhkan hari ini akan berubah dalam beberapa tahun ke depan. Bagi pekerja Indonesia, ini terasa nyata ketika satu jabatan tiba-tiba menghilang, sementara jabatan baru muncul dengan nama yang asing dan deskripsi yang membingungkan.
Lihat saja apa yang terjadi di sektor media, pendidikan, dan komunikasi. Banyak penulis, editor, dan pengajar kini hidup berdampingan dengan AI generatif. Di Indonesia, AI dipakai untuk menulis caption, membuat modul, bahkan menyusun laporan cepat. Namun yang menarik: mereka yang bertahan bukan yang paling cepat memakai AI, tetapi yang paling mampu berpikir kritis—memilah mana informasi dangkal, mana yang bermakna, mana yang berisiko secara etis. Di sinilah analytical thinking dan creative thinking, dua skill teratas versi WEF, terasa sangat manusiawi. Ketika semua orang bisa “menghasilkan teks”, kemampuan memberi konteks dan arah justru menjadi pembeda.
Berteman dengan teknologi
Di dunia korporasi dan BUMN, gelombang digitalisasi dan efisiensi juga membawa ketegangan tersendiri. Banyak profesional berada di posisi serba salah: diminta adaptif, tetapi ruang belajar terbatas; diminta inovatif, tetapi takut salah. Ini menjelaskan mengapa WEF menekankan learning agility dan resilience. Di Indonesia, reskilling sering bukan soal ambisi karier, melainkan soal bertahan. Upaya reskilling dan upskilling menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan. Seorang staf administrasi belajar data sederhana agar tetap relevan. Seorang manajer belajar komunikasi digital karena timnya kini lintas kota dan generasi.
Fenomena kerja hybrid juga kerap menimbulkan persoalan yang tak baru-baru sekali: komunikasi. Format bekerja konvensional (baca: nine to five), yang melibatkan adanya interaksi langsung di waktu dan tempat yang sama masih, memiliki potensi salah menangkap pesan. Format kerja hybrid—yang tak mengharuskan seluruh pekerja bertemu langsung di waktu dan tempat yang sama—mengakselerasi persoalan yang berkaitan dengan komunikasi. Banyak konflik kerja hari ini bukan disebabkan oleh strategi yang buruk, tetapi oleh pesan yang gagal sampai. Nada yang salah di grup WhatsApp kantor, email yang multitafsir, atau rapat daring yang terasa dingin dan tanpa empati. Tak heran jika communication, social influence, dan leadership masuk daftar skill penting. Di konteks Indonesia—yang budayanya sangat kontekstual—kemampuan membaca situasi, emosi, dan relasi sering kali lebih menentukan daripada kecakapan teknis semata.

Isu lain yang semakin terasa relevan dengan apa yang dilaporkan WEF adalah kelelahan kolektif. Burnout bukan lagi istilah pekerja startup Jakarta; ia juga dikenali oleh kalangan ke guru, tenaga kesehatan, ASN, dan pekerja sektor sosial. Banyak orang kelelahan bukan karena malas, tetapi karena terlalu lama bekerja dalam ketidakpastian. Di sinilah self-management dan stress tolerance menjadi skill penting, meski jarang diakui secara formal. Profesional yang mampu mengelola batas diri, emosi, dan energi justru lebih siap belajar skill baru—sebuah ironi yang sering diabaikan organisasi.
Lalu ada isu besar lain yang sering terasa jauh, tapi pelan-pelan menjadi kesadaran sosial bersama: keberlanjutan dan krisis iklim. Di Indonesia—sampai artikel ini ditulis—cuaca ekstrem dan perubahan iklim telah menyebabkan bencana banjir di sejumlah wilayah (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Malang, Bandung, dls) yang menyebabkan ribuan korban jiwa, materil dan immaterial. Bukan hanya banjir, persoalan lingkungan di Indonesia juga melatarbelakangi persoalan krisis air, dan konflik lahan yang setiap hari mewarnai berita di headline berita.
Industri energi, manufaktur, bahkan keuangan mulai mencari orang yang memahami dampak lingkungan dan sosial dari keputusan bisnis. WEF menyebut environmental stewardship sebagai skill yang tumbuh, dan ini mulai terlihat dalam kebutuhan akan analis ESG, perencana pembangunan berkelanjutan, hingga profesional yang mampu menjembatani ekonomi dan ekologi.
Skills Abad 21
Jika kita jujur, skill abad 21 bukan daftar yang harus dihafal. Ia lebih seperti perubahan cara hidup sebagai profesional. Dunia kerja tidak lagi menjanjikan stabilitas, tetapi menawarkan relevansi bagi mereka yang mau terus belajar. Yang dicari bukan manusia sempurna, melainkan manusia yang lentur: mampu berpikir, berkomunikasi, beradaptasi, dan tetap waras di tengah perubahan.
Bagi pekerja Indonesia, tantangannya ganda. Kita bukan hanya mengejar masa depan, tetapi juga menyelesaikan pekerjaan rumah lama, misalnya penyediaan tenaga kerja trampil melalui pendidikan. Namun justru di situlah peluangnya. Mereka yang mampu menggabungkan kepekaan manusiawi dengan kemampuan belajar cepat akan menjadi jembatan antara dunia lama dan dunia baru.
Mungkin inilah pesan paling jujur dari Future of Jobs 2025: masa depan kerja tidak akan ramah pada yang paling pintar, tetapi pada mereka yang paling mau berubah—tanpa kehilangan kemanusiaannya.