You are currently viewing Lingkungan Kerja Toxic: Bukan Sekadar Soal Orang Lain, Tetapi Bagaimana Cara Kita Meresponsnya

Lingkungan Kerja Toxic: Bukan Sekadar Soal Orang Lain, Tetapi Bagaimana Cara Kita Meresponsnya

Selama ini, pembahasan tentang toxic workplace hampir selalu berfokus pada faktor eksternal: atasan yang tidak sehat, budaya organisasi yang buruk, atau rekan kerja yang sulit. Namun pendekatan ini seringkali tampak terlalu sederhana: seolah-olah masalah hanya datang dari luar. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks.

Lingkungan kerja toxic tidak hanya terbentuk dari sistem dan orang lain, tetapi juga dari interaksi antara kondisi eksternal dengan kondisi psikologis individu itu sendiri. Di sinilah perspektif psikologi menjadi penting—dan sering kali terlewat.

Sebuah temuan menunjukkan bahwa kondisi internal seseorang (misalnya perasaan tidak cukup baik atau self-inadequacy) dapat mempengaruhi perubahan perilaku tertentu. Perasaan tidak cukup baik ini dapat diperparah karena tekanan psikologis (distres psikologis).[1] Dengan kata lain, kondisi eksternal (misal, lingkungan kerja yang toxic) bukan hanya membuat seseorang stress tetapi juga mengaktifkan kerentaan psikologis yang sudah ada.


[1] https://lintar.untar.ac.id/repository/penelitian/buktipenelitian_10796002_4A130223123334.pdf

Dinamika yang Tidak Terlihat: Ketika Internal Bertemu Eksternal

Dalam sebuah lingkungan kerja yang sama, dua orang individu dapat memberikan respons yang berbeda 1800. Satu tetap stabil dan strategis. Satu lagi cepat lelah, defensif, atau menarik diri. Perbedaannya sering bukan pada situasi, tetapi pada tingkat self-inadequacy, kapasitas regulasi emosi, tingkat distres psikologis yang dialami.

Dalam lingkungan kerja toxic, tekanan eksternal seperti kritik yang tidak sehat, ekspektasi yang tidak jelas, atau relasi yang manipulatif akan dengan cepat “bertemu” dengan kondisi internal individu. Ketika seseorang sudah memiliki kecenderungan merasa tidak cukup baik, maka feedback biasa bisa terasa seperti serangan, konflik kecil terasa personal, ketidakjelasan terasa mengancam, dan di titik inilah distres psikologis meningkat.

Phubbing di Tempat Kerja: Gejala yang Sering Diabaikan

Sebuah penelitian bertajuk Peran Self-Inadequacy Terhadap Phubbing dengan Distres Psikologis Sebagai Mediator menyoroti fenomena phubbing—mengabaikan interaksi sosial dan memilih distraksi digital—di lingkungan kerja. Dalam konteks profesional, bentuknya mungkin berbeda, tetapi polanya sama. Contohnya, menghindari diskusi penting, pasif dalam meeting, “sibuk sendiri” saat sedang berinteraksi dengan tim, atau menarik diri dari komunikasi informal.

Secara sekilas, fenomena-fenomena itu ditarik sebagai masalah attitude individu semata. Padahal, sering kali ini adalah mekanisme coping terhadap tekanan psikologis yang tidak terkelola. Ketika individu merasa tidak aman secara psikologis, tidak cukup kompeten, atau terus-menerus tertekan. Maka, menghindar menjadi respons yang “paling aman”.

Namun ironisnya, perilaku ini justru memperburuk persepsi di lingkungan kerja. Seseorang dengan perilaku phubbing akan mudah dianggap sebagai pihak yang tidak engaged dengan sesama pekerja/tim, dinilai tidak kolaboratif, atau bahkan tidak kompeten. Siklus pun terbentuk: tekanan menyebabkan distress, yang berdampak pada perilaku menarik diri sehingga menimbulkan persepsi negatif yang berakibat pada tekanan baru yang dirasakan oleh seseorang.

Ciri Lingkungan Kerja Toxic yang Memicu Distres Psikologis

Jika dilihat dari perspektif ini, kita bisa lebih tajam dalam mengidentifikasi ciri toxic workplace, bukan hanya dari perilaku luar, tetapi dari dampaknya terhadap kondisi psikologis individu. Beberapa indikator kunci seperti lingkungan yang mengaktifkan rasa “tidak cukup” (bukan sekadar kritik, tetapi kritik yang tidak jelas, tidak konstruktif, atau berubah-ubah). Lingkungan seperti ini membuat individu terus mempertanyakan dirinya sendiri. Selain itu, lingkungan kerja yang toxic seringkali mendatangkan ketidakpastian yang tinggi, melalui ketidakjelasan peran dengan ekspektasi berubah dan keputusan yang tidak konsisten. Bagi individu dengan kerentanan self-inadequacy, kondisi ini sangat memicu kecemasan karena tidak ada “pegangan” yang stabil.

Lingkungan kerja yang toxic juga seringkali dapat dikenali dari fenomena minimnya psychological safety. Beberapa indikator seperti tidak ada ruang aman untuk bertanya, melakukan kesalahan, atau berbeda pendapat. Akibatnya, individu memilih diam atau menarik diri. Tekanan yang bersifat personal (bukan professional) juga menjadi ciri lingkungan kerja yang toxic. Dalam lingkungan kerja yang toxic, alih-alih membahas pekerjaan, interaksi seringkali menjadi perang ego antar sesama, membandingkan individu satu dengan lainnya, atau merendahkan secara halus. Kondisi-kondisi ini jika berlangsung lama dan terus-menerus secara langsung memperkuat distres psikologis.

Masalahnya Bukan Hanya Lingkungan, Tapi Bagaimana Respons Kita

Insight paling penting dari perspektif ini adalah lingkungan kerja toxic menjadi berbahaya ketika bertemu dengan kondisi psikologis individu yang tidak siap. Ini bukan berarti “menyalahkan individu”. Sebaliknya, ini justru membuka ruang solusi yang lebih realistis karena jika hanya fokus pada lingkungan:

kita menunggu perubahan yang belum tentu terjadi. Tetapi jika memahami interaksi ini: individu bisa mulai mengambil kontrol. Misalnya, dengan mengubah cara kita melihat masalah. Alih-alih berpikir, “lingkungan ini toxic, saya harus keluar” menjadi “Apa yang sebenarnya terjadi antara lingkungan ini dan respons saya?” Pertanyaan ini jauh lebih strategis. Karena dari sini, individu bisa mulai mengenali trigger psikologis pribadi, mengelola distres sebelum memuncak, tetap engage tanpa harus terjebak secara emosional, dan yang paling penting mengambil keputusan karier dengan lebih jernih.

Toxic Workplace Adalah Sistem + Psikologi

Lingkungan kerja toxic tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu merupakan hasil dari sistem yang tidak sehat, perilaku (respons) individu, serta kondisi psikologis yang saling berinteraksi. Ketika tekanan dan lingkungan kerja meningkatkan distres psikologis, seringkali tanpa kita sadari kita pun merespons lingkungan dengan cara yang berbeda. Karena itu, menghadapi lingkungan kerja toxic bukan hanya soal bertahan atau keluar. Tetapi tentang memahami dinamika secara utuh, mengelola diri secara strategis dan tidak membiarkan kondisi eksternal sepenuhnya menentukan arah kita. Di titik itulah seseorang tidak hanya survive, tetapi benar-benar memiliki kendali atas kariernya, bahkan dalam situasi yang tidak ideal.

Tinggalkan Balasan