You are currently viewing Pelajaran Dari Transformasi Budaya Sehat Melalui Kebiasaan New Normal Yang Berhenti Di Tengah Jalan

Pelajaran Dari Transformasi Budaya Sehat Melalui Kebiasaan New Normal Yang Berhenti Di Tengah Jalan

Ada momen yang hampir selalu muncul dalam setiap perjalanan transformasi. Satu-dua tahun setelah sebuah agenda perubahan dimulai, muncul tanda-tanda perbaikan yang nyata. Menurut John P. Kotter, profesor kepemimpinan Harvard Business School, justru di titik inilah sebuah transformasi berada di persimpangan yang perlu diwaspadai. Bukan karena keberhasilan awal itu tidak nyata, melainkan karena godaan untuk merayakannya sebagai tanda bahwa “perang sudah ditaklukkan” justru bisa membunuh momentum yang sedang dibangun.

Kotter menekankan bahwa perubahan budaya yang benar-benar mengakar butuh waktu lima hingga sepuluh tahun—jauh lebih lama dari siklus dua-tiga tahun yang biasa dianggarkan untuk sebuah program perubahan. Ironisnya, pihak yang mendorong perubahan dan pihak yang menolaknya sering kali sama-sama berkontribusi pada perayaan keberhasilan dini ini. Pihak yang menginginkan perubahan terbawa euforia atas keberhasilan awal, sementara pihak yang menolak perubahan cepat memanfaatkan momen itu untuk menyatakan, “sudah cukup, saatnya kembali ke mode normal seperti sebelum ini semua dimulai.”

Keberhasilan Kecil yang Direncanakan, Bukan Diharapkan

Sebelum bicara soal bahaya merayakan keberhasilan terlalu cepat, penting dipahami dulu mengapa kemenangan jangka pendek itu sendiri dibutuhkan. Kotter membedakan tegas antara berharap ada keberhasilan jangka pendek dan secara aktif merencanakannya. Berharap bermakna pasif. Artinya, perubahan yang diupayakan seadanya sambil menunggu hasil baik. Merencanakan berarti kerja sistematis, memilih target yang realistis dicapai dalam waktu tertentu, memastikan ada pihak yang fokus mengejarnya, lalu merayakan pencapaiannya secara terbuka begitu berhasil.

Prinsip ini sesungguhnya sempat dijalankan dengan cukup baik pada awal-awal masa pandemi Covid-19 di Indonesia melalui penerapan kebiasaan new normal yang konsisten dijalankan. Keberhasilan penerapan new normal itu tampak pada target-target kecil yang terukur terkait penurunan angka kasus mingguan di suatu wilayah setelah penerapan protokol kesehatan, capaian cakupan vaksinasi tahap awal, atau testimoni pasar dan perkantoran yang berhasil menekan klaster penularan, dikomunikasikan secara berkala kepada publik sebagai bukti bahwa disiplin kolektif memang membuahkan hasil. Bukan sekadar imbauan di atas kertas. Tanpa bukti-bukti kecil semacam ini, masyarakat yang lelah menjalani pembatasan panjang akan jauh lebih cepat kehilangan motivasi untuk disiplin, bahkan diam-diam bergabung dengan kelompok yang skeptis terhadap keseluruhan protokol kesehatan.

Ketika Perubahan Awal Dianggap Keberhasilan Dini

Namun, di sinilah bahaya “merayakan keberhasilan terlalu cepat” alih-alih terus mengupayakan transformasi new normal menjadi cara hidup sehat yang benar-benar baru. Begitu kurva kasus melandai dan pembatasan mulai dilonggarkan, banyak pihak terburu-buru menganggap “perang sudah dimenangkan.” Protokol kesehatan mulai diabaikan di ruang publik, kebiasaan mencuci tangan kembali kendur, dan kerumunan tanpa masker kembali menjadi pemandangan biasa.

Padahal, sebagaimana diingatkan Kotter, keberhasilan awal semestinya menjadi modal untuk menanamkan perubahan lebih dalam ke tingkat kebiasaan dan norma sosial. Bukan sinyal untuk kembali ke pola lama. Kenormalan baru yang sempat terbentuk saat Covid-19 sesungguhnya membuka peluang besar untuk mendorong transformasi budaya sehat yang lebih permanen: kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, etika batuk dan bersin di ruang publik, hingga kebiasaan tetap di rumah saat sakit demi melindungi orang lain. Tetapi, karena momentum awal itu dirayakan sebagai garis akhir, alih-alih batu loncatan, sebagian besar kebiasaan sehat tersebut perlahan luntur begitu tekanan krisis mereda. Ini persis pola yang berulang kali ditemukan Kotter pada transformasi organisasi yang gagal mengakar karena kemenangan dini tergesa-gesa dianggap sebagai keberhasilan final.

Budaya Baru Harus Mengakar, Bukan Sekadar Tren Sesaat

Kesalahan terakhir yang menurut Kotter paling sering menggagalkan transformasi jangka panjang adalah gagal menanamkan perubahan ke dalam norma sosial dan nilai bersama yang dipegang tanpa perlu diperintah atau diawasi lagi. Selama perubahan hanya bertahan karena ada tekanan aktif dari luar, ia akan segera hilang begitu tekanan itu dilonggarkan. Dan itulah yang terjadi pada sebagian besar kebiasaan new normal era pandemi. Selama ada rasa takut tertular, razia protokol kesehatan, dan sanksi sosial dari lingkungan sekitar, masyarakat patuh memakai masker dan mencuci tangan. Begitu tekanan eksternal itu mereda, kebiasaan yang tampak sudah “membudaya” ternyata pudar jauh lebih cepat dari perkiraan.  Saat ini, masyarakat kembali melepas maskernya, padahal manfaatnya tetap relevan, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan urban dengan tingkat polusi udara tinggi.

Kotter menyoroti dua faktor penentu apakah sebuah perubahan benar-benar mengakar atau sekadar tren sesaat. Pertama, upaya sadar untuk menunjukkan kaitan eksplisit antara perilaku baru dan hasil yang membaik. Ketika kurva kasus melandai, banyak orang justru mengaitkan penurunan itu dengan hal keliru (anggapan virus sudah “melemah dengan sendirinya”, faktor cuaca, atau semata keberuntungan kolektif), alih-alih memahaminya sebagai hasil disiplin kolektif memakai masker dan menjaga jarak. Tanpa kaitan sebab-akibat ini dikomunikasikan berulang oleh otoritas kesehatan, wajar jika begitu angka kasus turun, kebiasaan sehat dianggap sudah tidak relevan lagi.

Kedua, pentingnya memastikan “generasi berikutnya” benar-benar mewarisi kebiasaan baru itu, bukan sekadar tidak menentangnya. Apakah cuci tangan dan etika batuk-bersin diajarkan konsisten kepada anak-anak di sekolah setelah pandemi usai, apakah institusi kesehatan dan tempat kerja tetap menjadikan standar kebersihan pandemi sebagai norma baku, dan apakah pembuat kebijakan generasi berikutnya melanjutkan investasi edukasi kesehatan masyarakat. Atau, justru menganggap urusan ini sudah “selesai” begitu status pandemi resmi dicabut. Ketika institusi gagal mewariskan kebiasaan ini secara aktif, kebiasaan sehat yang sempat terbentuk berisiko hanya menjadi kenangan spesifik satu periode krisis, bukan bagian permanen dari cara hidup masyarakat.

Bertahan Lebih Lama dari Sorak-sorai Awal

Transformasi hidup sehat melalui new normal ini bukan sekadar cerita tentang kebijakan kesehatan publik. Pola yang sama dapat dilihat di sejumlah transformasi organisasi bisnis dan korporasi yang berhenti di tengah jalan. Euforia keberhasilan awal atas kuartal pertama yang membaik, budaya kerja baru yang sempat terasa segar sebelum kembali ke kebiasaan lama, atau program transformasi digital yang dianggap “selesai” begitu pilot project pertama berhasil.

Bagi organisasi yang sedang atau akan menjalani transformasi besar, pelajaran dari fase akhir ini justru paling sering diabaikan karena terasa kurang dramatis dibanding fase peluncuran. Merayakan keberhasilan kecil itu penting dan perlu dilakukan secara terbuka. Tetapi merayakannya sebagai akhir cerita transformasi, alih-alih sebagai satu titik di tengah perjalanan panjang, adalah kesalahan yang bisa membatalkan bertahun-tahun kerja keras hanya dalam hitungan bulan.

Upaya transformasi tidak diukur dari seberapa meriah momen peluncurannya, melainkan dari seberapa jauh perubahan itu masih terasa lima atau sepuluh tahun kemudian. Jauh setelah krisis pemicunya berlalu, konsultan atau juru kampanye transformasinya sudah lama pergi, dan para pemrakarsa awalnya mungkin sudah tidak lagi berada di posisi yang sama. []

*) Referensi: Leading Change: Why Transformation Efforts Fail oleh John P. Kotter, Profesor of Leadership di Harvard Business School, Boston.

Paramadina x Mizan Continuing and Professional Education adalahSebuah kolaborasi program pendidikan antara Universitas Paramadina dan Mizan Group yang hadir untuk menjawab kebutuhan upskilling, reskilling, dan refreshing di era global. Setiap program training kami diampu oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, didasarkan pada cutting edge theoretical insights, relevan, dan aplikatif untuk dunia hari ini. Salah satu program yang kami hadirkan adalah Organizational Transformation dan Leadership Series bagi perusahaan dan organisasi yang ingin selalu relevan. Program lengkap kami dapat dilihat disini

Tinggalkan Balasan