Publik Indonesia tentu tidak asing dengan sosok Michael Bambang Hartono. Bersama sang adik, Robert Budi Hartono, ia membangun Grup Djarum menjadi konglomerasi besar dengan portofolio bisnis yang sangat beragam. Mulai dari industri rokok dan kretek, perbankan melalui Bank Central Asia, elektronik dan teknologi seperti Polytron dan GDP Venture, hingga properti dan ritel seperti Grand Indonesia—dan masih banyak lagi. Ekspansi bisnis yang luas ini menjadikan Hartono bersaudara sebagai dua dari orang terkaya di Indonesia.
Ketika kabar wafatnya Michael pada 19 Maret 2026 lalu tersiar, publik Indonesia tentu terkejut. Namun, gelombang duka ternyata tidak hanya datang dari dalam negeri. Di sebuah kota kecil di Italia, Como, kabar tersebut juga disambut dengan rasa kehilangan yang mendalam. Belakangan diketahui, Michael bukan hanya dikenal sebagai pengusaha besar, tetapi juga sebagai pemilik klub sepak bola Como 1907, yang diakuisisi pada tahun 2019. Lebih dari sekadar kepemilikan, sosoknya dikenang karena transformasi yang ia dorong—mengubah Como 1907 dari klub yang nyaris tak terdengar menjadi entitas yang diperhitungkan, bahkan berhasil menembus Serie A Liga Italia. Tulisan ini mencoba membaca transformasi tersebut sebagai sebuah praktik strategis yang berdampak jangka panjang.
Como 1907: Dari Kebangkrutan Menuju Kredibilitas
Langkah awal transformasi Como 1907 dimulai pada tahun 2019, ketika klub ini diakuisisi oleh SENT Entertainment, perusahaan yang berada dalam naungan Grup Djarum. Pada saat itu, Como 1907 bukanlah klub dengan prospek cerah. Ia baru saja keluar dari kebangkrutan dan bermain di kasta bawah sepak bola Italia, dengan infrastruktur terbatas serta basis penggemar yang cenderung lokal dan stagnan.
Namun justru dari titik inilah arah transformasi ditentukan. Alih-alih mengambil pendekatan instan (misalnya, dengan belanja pemain besar-besaran demi promosi cepat), pemilik baru Como 1907 memilih jalur yang lebih tidak populer: membangun ulang fondasi klub secara menyeluruh. Mereka menunjuk Mirwan Suwarso sebagai perwakilan manajemen yang memimpin orkestrasi perubahan, sekaligus menjembatani visi pemilik dengan realitas operasional di lapangan.
Dalam sebuah kesempatan, Mirwan Suwarso mengatakan bahwa periode awal akuisisi, sulit sekali meyakinkan pihak lain untuk bekerjasama dengan Como 1907. Fakta bahwa klub tersebut telah mengalami tiga kali kebangkrutan dalam satu dekade membuat hampir tidak ada kepercayaan dari berbagai pihak pada klub. Sehingga, Mirwan memulai strateginya dengan membangun ulang kredibilitas klub melalui manusianya.

Klub membayar vaksinasi COVID-19 lokal, merevitalisasi toko-toko, dan memulihkan kepercayaan melalui inisiatif ekonomi akar rumput. Kemitraan ritel yang berhasil digaet melonjak dari kurang dari 200 ketika mereka tiba menjadi hampir 500 hanya dalam 18 bulan. Fase berikutnya yang menarik perhatian publik adalah bergabungnya Cesc Fàbregas pada tahun 2022. Bagi banyak klub, kehadiran mantan bintang seperti Fàbregas bisa jadi sekadar strategi marketing atau upaya mendongkrak performa jangka pendek. Ia meyakini dengan Fàbregas sebagai pemimpin, tim akan bermain dengan identitas menyerang yang berakar pada keyakinan, struktur, dan tempo
Menciptakan Merek Global
Strategi transformasi selanjutnya yang dilakukan Grup Djarum pada klub Como 1907 bukan hanya tentang memenangkan pertandingan. Como 1907 berupaya mendefinisikan kembali hal apa yang dapat dilakukan agar mereka dapat dikenal sebagaimana sebuah klub sepak bola yang tersohor. Mereka harus memiliki eksposur ekstra untuk melakukan hal itu.

Dalam sebuah wawancara, Suwarso mengatakan bahwa sepak bola adalah daya tarik yang melintasi batas internasional. Itulah sebabnya, bukan hal yang mustahil menciptakan merek global melalui sepak bola. Namun, selain mengupayakan inovasi di luar lapangan, filosofi yang diyakini Suwarso juga cukup jelas: sepak bola harus yang menggerakkan segalanya. Karenanya, Suwarso juga memadukan ide danau Como: destinasi wisata utama yang kedatangan lima juta wisatawan setiap tahunnya. Suwarso mengeksekusi peluang tersebut dengan menjadikan Como 1907 sebagai destinasi wisata sepak bola premium. Kampanye gaya hidup yang terkait dengan klub pun dimulai dengan melibatkan sejumlah influencer media sosial. Upaya ini berhasil mendorong peningkatan jumlah wisatawan ke Danau Como sebanyak lima kali lipat.
Investasi Data dan Faktor Manusia
Berbagai keputusan strategis yang berhasil diambil oleh manajemen Como 1907 dan pemiliknya tidak datang dari insting semata. Diakui Suwarso dan Fàbregas, klub ini berinvestasi besar-besaran pada data dan analitik. Dalam hal permainan sepak bola, klub memadukan insting dan informasi melalui data-data yang ada, mengidentifikasi bakat yang kurang dihargai di seluruh Eropa dan memberi mereka platform untuk berkembang. Akan tetapi, para pemain tidak hanya direkrut berdasarkan kemampuannya, namun juga atas kepercayaan mereka pada visi misi yang ingin diwujudkan klub.
Sedangkan di sisi manajemen secara umum, Mirwan Suwarso yang berpengalaman di bidang branding dan ekonomi digital kerap mengupayakan solusi atas hambatan-hambatan yang mungkin muncul atas sejumlah strategi yang akan diterapkan.

Salah satu yang cukup menarik adalah bagaimana klub menangani sistem penjualan tiket sepak bola yang lebih transparan. Sepak bola di Italia terkenal dengan praktik calo penjualan tiket. Como 1907 melihat masalah ini dan membangun platform berbasis blockchain mereka sendiri dengan mencetak NFT (non-fungible token) yang terkait dengan penerbitan tiket. Upaya ini memungkinkan wisatawan untuk merencanakan kehadiran di pertandingan beberapa bulan sebelumnya, memecahkan masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh sistem konvensional.
Investasi berbasis data yang melibatkan faktor manusia kini menjadi fondasi penting bagi perkembangan Como 1907. Klub ini tidak lagi hanya dikenal karena performanya di lapangan, tetapi juga sebagai brand yang merambah berbagai sektor. Pembangunan ekosistem brand Como 1907 mencakup sejumlah bidang: mode (melalui pakaian bermerek dan lini gaya hidup), media (dengan pendekatan storytelling dan produksi konten), merchandise (menggunakan sutra khas Como yang mencerminkan identitas lokal), serta pendidikan (melalui akademi sepak bola bagi pelajar dari Amerika Serikat).
Setiap inisiatif tersebut memperkuat identitas inti Como 1907—premium, berbasis lokasi, dan memiliki resonansi emosional. Klub ini tidak sekadar menjual produk, tetapi juga nilai dan persepsi kepada dunia. Semua itu dibangun di atas visi strategis yang kuat, dengan dukungan finansial dari para investor dan pemiliknya.
Lesson Learned: Yang Dapat Dipetik dari Perjalanan Transformasi Como 1907
Kebangkitan Como 1907 menunjukkan bahwa transformasi organisasi tidak dimulai dari kemenangan yang instan, melainkan dari pemulihan makna dan kepercayaan. Ada beberapa pelajaran penting yang dapat ditarik dari perjalanan transformasi Como 1907.

Pertama, kredibilitas adalah fondasi awal transformasi. Sebelum berbicara tentang performa, Como 1907 membangun ulang kepercayaan melalui aksi nyata di komunitas. Kedua, kepemimpinan yang berorientasi sistem lebih berkelanjutan dibandingkan figur semata. Peran Mirwan Suwarso menunjukkan bagaimana visi diterjemahkan menjadi orkestrasi yang konsisten. Ketiga, integrasi antara data dan nilai menjadi pembeda; keputusan berbasis analitik tetap ditopang oleh keselarasan visi dan identitas. Keempat, keberanian mendefinisikan ulang model bisnis—dari klub menjadi ekosistem pengalaman—membuka sumber nilai baru yang membentuk keseluruhan identitas. Namun, pelajaran terpentingnya adalah transformasi bukan tentang mengubah satu aspek organisasi, tetapi tentang menyelaraskan keseluruhan sistem; mulai dari kepemimpinan, mission (goals besar), strategi, bentuk organisasi, budaya organisasi, manusia, hingga cara organisasi memaknai dirinya. Como 1907 mengingatkan kita bahwa organisasi yang bertahan bukan yang paling cepat berubah, tetapi yang paling konsisten membangun arah dan melihat seluruh elemen sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi dan berdampak.