You are currently viewing Tidak Ada Kata Tua untuk Belajar

Tidak Ada Kata Tua untuk Belajar

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Ungkapan ini mewujud nyata pada kampus-kampus di Amerika Serikat. Di kelas-kelas, pemandangan mulai ramai oleh raut wajah serius dengan rambut beruban. Orang dewasa kembali membuka buku, mencatat, dan mengerjakan tugas.

Jutaan orang tua di AS ramai-ramai kembali ke kampus. Mereka mendaftar kursus untuk mempelajari keterampilan baru, mendapatkan sertifikat profesional, atau mengejar gelar akademik.

”Mereka mungkin memiliki anak, mereka mungkin bekerja penuh waktu, mereka mungkin mahasiswa non-tradisional yang lebih tua,” kata Eric Deschamps, Direktur Pendidikan Berkelanjutan di Northern Arizona University di Flagstaff, Arizona, kepada Associated Press edisi Minggu (22/2/2026).

belajar sampai tua

Para ahli pendidikan tinggi mengatakan, beberapa orang dewasa mengikuti kelas pengembangan profesional karena kekhawatiran ekonomi, kemajuan teknologi, dan perubahan tenaga kerja lainnya. Dinamisnya kondisi dunia kerja saat ini memicu rasa tidak aman dalam pekerjaan.

”Contoh yang bagus adalah kecerdasan buatan. Teknologi baru ini muncul dengan cukup cepat dan bagi orang-orang yang mendapatkan gelar, bahkan hanya lima atau sepuluh tahun yang lalu, pengetahuan mereka mungkin sedikit ketinggalan zaman,” kata Deschamps.

Alasan lain lebih sederhana. Mereka ingin meningkatkan karier atau gaji. Beberapa mahasiswa juga mau merasakan hal baru dan mengeksplorasi minat pribadi.

Sebelum melanjutkan pendidikan, ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan. Calon mahasiswa harus mengukur waktu, anggaran, kesehatan, serta potensi manfaat dan konsekuensi kuliah.

Deschamps menyarankan, calon mahasiswa harus bertanya kepada diri sendiri terlebih dulu ingin berada di mana dalam lima atau sepuluh tahun. Bagaimana pelatihan dan pengetahuan dari kursus dapat membantu mencapai tujuan itu?

Kampus Menyesuaikan

Belajar di usia matang memberi sensasi tersendiri. Banyak mahasiswa yang lebih tua sudah mempunyai tanggung jawab atau komitmen lain dalam hidup. Alhasil, mereka harus menyeimbangkan belajar dengan pekerjaan penuh waktu, pengasuhan anak, atau tanggung jawab lain.

Kampus-kampus, seperti Northern Arizona University atau Universitas California, Los Angeles (UCLA), berupaya membuat kursus pendidikan berkelanjutan yang gampang diakses. Biayanya tetap rendah ketimbang kelas-kelas jalur gelar. Bantuan keuangan juga tersedia.

Kampus juga berusaha mengakomodasi kebutuhan para mahasiswa dengan segudang pengalaman kerja atau hidup itu. Para mahasiswa bisa belajar di kelas tatap muka atau daring dengan silabus yang gampang dipraktekkan pada pekerjaan atau kehidupan.

Mahasiswa bisa mengasah kemampuan di bidang, mulai dari desain interior, pendidikan anak usia dini, studi paralegal, hingga akuntansi. Untuk bidang kreatif, mereka bisa mempelajari fotografi dan produksi musik. Kursus-kursus individual mencakup perencanaan pensiun, penulisan novel, bisnis atlet dan seniman, seni kuno Jepang ikebana, atau merangkai bunga.

UCLA Extension, divisi pendidikan berkelanjutan dari UCLA, menawarkan lebih dari 90 program spesialisasi dan sertifikat. UCLA Extension kini memiliki sekitar 33.500 mahasiswa, hampir setengahnya berusia di atas 35 tahun. Sebagai perbandingan, UCLA mempunyai 32.600 mahasiswa sarjana penuh waktu yang sedang mengejar gelar.

”Saya lebih suka menyebut para pembelajar dewasa kami bukan hanya pembelajar berkelanjutan, melainkan juga mahasiswa baru. Mereka adalah pembelajar yang cenderung sudah bekerja, sering kali menghidupi keluarga, yang mencari peningkatan keterampilan atau terkadang perubahan karier,” kata Traci Fordham, Dekan Asosiasi Sementara UCLA untuk Program Akademik dan Inovasi Pembelajaran.

Melawan Ragu

Para ahli pendidikan berpendapat, salah satu hambatan utama untuk kembali ke sekolah adalah psikologis. Mungkin ada kekhawatiran bahwa kemampuan menulis sudah tumpul atau kemampuan matematika dan teknologi berkurang. 

”Saya pikir ini terkait dengan akses. Banyak dari peserta didik kami, tidak semuanya, belum pernah membayangkan diri mereka berada di lingkungan pendidikan tinggi atau pendidikan pascasarjana,” kata Fordham.

Asisten Direktur untuk Penasihat Akademik dan Kesuksesan Mahasiswa UCLA, Katie Swavely, menambahkan, tidak apa-apa untuk langsung terjun dan mencoba belajar. Setelah meraih gelar pascasarjana dan bekerja di UCLA, Swavely kini berencana untuk mengikuti kursus penyuntingan buku karena suka membaca.

”Ada pertanyaan tentang bagaimana kita akan mewujudkannya dan apakah kita punya uang. Sebagai orang tua, pengorbanan selalu ada. Anda membuat keputusan setiap hari, tetapi pastikan berinvestasi pada diri sendiri,” ujar Swavely.

Swavely mengingatkan, penting untuk membangun jaringan dukungan sekaligus memanfaatkan konseling dan bimbingan yang tersedia bagi mahasiswa. Meski sudah mandiri dan dewasa, mahasiswa yang lebih tua juga perlu menemukan komunitas untuk bertahan, membangun kepercayaan diri di rumah dan kelas, serta membantu menyelesaikan pendidikan. ”Saya juga menetapkan batasan dan memberi diri kelonggaran ketika saya membutuhkan bantuan. Saran lain terpenting adalah agar orang-orang menyadari bahwa Anda tidak pernah terlalu tua untuk belajar,” kata Swavely.

Artikel ini diterbitkan oleh Kompas.id pada tanggal 26 Februari 2026.

Ditulis oleh: Elsa Emiria Leba

https://www.kompas.id/artikel/tidak-ada-kata-tua-untuk-belajar

Tinggalkan Balasan