You are currently viewing Hasty Reading: Ketika Anjloknya Kemampuan Membaca Mengancam Fondasi Skill Masa Depan

Hasty Reading: Ketika Anjloknya Kemampuan Membaca Mengancam Fondasi Skill Masa Depan

Pada 8 September 2026, OECD merilis hasil PISA 2025, laporan tiga tahunan yang mengukur kemampuan literasi, numerasi, dan sains lebih dari 760.000 siswa berusia 15 tahun dari 91 negara. Hasilnya mengejutkan. Rata-rata skor membaca di 35 negara anggota OECD turun 14 poin dibandingkan 2022, dan anjlok hingga 28 poin sejak 2015. Hampir sepertiga siswa OECD kini berada pada kategori kemampuan rendah dalam membaca, matematika, dan sains sekaligus. Indonesia memang mencatat kenaikan tipis pada skor membaca dan sains, namun tetap berada jauh di bawah rata-rata OECD dan peringkat ke-74 dari 90 negara peserta.

Di balik angka-angka itu, ada gejala yang lebih mendasar daripada sekadar nilai ujian: cara generasi muda membaca telah berubah. Mereka membaca lebih banyak teks setiap hari dibandingkan generasi mana pun sebelumnya, namun dengan cara yang serba cepat, meloncat dari judul ke kesimpulan, mengais kata kunci tanpa menelusuri argumen. Fenomena inilah yang oleh peneliti membaca disebut hasty reading atau skimming, sebuah gejala yang jika dibiarkan, dapat menjadi ancaman diam-diam terhadap kesiapan kerja di masa depan.

Dari Skimming ke Defisit Berpikir

Maryanne Wolf, neurosaintis kognitif dari UCLA dan penulis Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World, telah lama memperingatkan bahwa otak manusia tidak dilahirkan untuk membaca; kemampuan itu dibangun lewat sirkuit saraf yang terbentuk dari pengulangan dan kedalaman proses. Wolf menyebut proses itu deep reading, yaitu kemampuan menyambungkan pengetahuan lama dengan informasi baru, menarik inferensi, menguji kebenaran suatu klaim, serta masuk ke sudut pandang orang lain. Ketika seseorang terbiasa skimming, sirkuit itu tidak sempat bekerja penuh. Bukan karena malas, melainkan karena secara harfiah tidak tersedia cukup waktu kognitif untuk berpikir, apalagi merasakan.

Hasil PISA 2025 memperlihatkan konsekuensi dari kebiasaan itu dalam skala global. Anjloknya skor membaca tidak berdiri sendiri; ia berjalan beriringan dengan penurunan skor matematika dan sains, dua bidang yang sama-sama membutuhkan kemampuan menelusuri argumen secara bertahap, bukan menebak jawaban dari sekilas pandang. Dengan kata lain, hasty reading bukan sekadar persoalan literasi, melainkan gejala dari melemahnya kapasitas berpikir tingkat tinggi secara lebih luas.

Ironi Membaca di Tengah Revolusi Kecerdasan Buatan

Gejala ini muncul tepat ketika dunia kerja justru menuntut kapasitas berpikir yang lebih dalam, bukan lebih dangkal. Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF) menempatkan analytical thinking sebagai core skill paling dicari perusahaan, dengan tujuh dari sepuluh perusahaan menganggapnya esensial. Laporan itu juga mencatat bahwa lonjakan kebutuhan pada keterampilan teknologi, seperti AI and big data, justru turut mendorong meningkatnya kebutuhan pada analytical thinking dan systems thinking, karena kompleksitas pengambilan keputusan di dunia yang berbasis data semakin tinggi.

Di sinilah letak ironinya. Kemampuan bekerja bersama AI, mengevaluasi keluarannya, dan menempatkannya dalam konteks sistem yang lebih besar, sesungguhnya bertumpu pada fondasi kognitif yang sama dengan yang dilatih lewat deep reading: kesabaran menelusuri argumen, kemampuan menghubungkan potongan informasi, dan kejelian menguji kebenaran sebuah klaim. Fondasi itulah yang justru tergerus oleh kebiasaan hasty reading. Ketika WEF memproyeksikan hampir 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah hingga 2030, sebagian besar perubahan itu justru menuntut kapasitas berpikir sistemik yang tidak bisa tumbuh dari kebiasaan membaca sekilas.

Gejala yang Patut Diwaspadai Organisasi dan Bisnis

Kecenderungan ini tidak berhenti di bangku sekolah. Banyak profesional dan eksekutif, tanpa disadari, juga mengembangkan kebiasaan hasty reading: memindai laporan tebal hanya dari ringkasan eksekutifnya, membaca surel sambil berpindah tugas, atau menilai proposal dari beberapa baris pertama. Kebiasaan ini mungkin terasa efisien, tetapi berisiko melahirkan keputusan yang dangkal terhadap persoalan yang sesungguhnya kompleks dan saling terkait, persis jenis persoalan yang menuntut analytical dan systems thinking.

Bagi organisasi, ini adalah sinyal untuk tidak semata berinvestasi pada pelatihan teknis AI, tetapi juga pada fondasi cara berpikir yang menopangnya. Melatih mindset, membiasakan pola pikir sistemik, dan menajamkan design thinking adalah cara membangun kembali kapasitas berpikir mendalam yang mulai terkikis. Paramadina X Mizan Continuing and Professionals Education menghadirkan sejumlah program bagi para eksekutif yang ingin memperkuat fondasi ini, melalui sejumlah kursus yang mendorong pergeseran mindset, mulai dari pelatihan seputar mengidentifikasi bias dan blind spot yang ada dalam kognitif seseorang, kursus berkaitan systems thinking, hingga design thinking, sebagai bekal menghadapi kompleksitas kerja yang terus meningkat hingga 2030.

Pada akhirnya, krisis membaca yang terekam dalam PISA 2025 adalah pengingat bahwa keterampilan masa depan tidak lahir dari kecepatan mengakses informasi, melainkan dari kedalaman memprosesnya. Di tengah dunia yang menuntut lebih banyak analytical dan systems thinking, kemampuan membaca secara mendalam bukan lagi kemewahan akademis, melainkan investasi kognitif yang menentukan siapa yang benar-benar siap bekerja berdampingan dengan kecerdasan buatan, dan siapa yang hanya sekadar mengikutinya.[]

Paramadina x Mizan Continuing and Professional Education adalah Sebuah kolaborasi program pendidikan antara Universitas Paramadina dan Mizan Group yang hadir untuk menjawab kebutuhan upskilling, reskilling, dan refreshing di era global. Setiap program training kami diampu oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, didasarkan pada cutting edge theoretical insights, relevan, dan aplikatif untuk dunia hari ini. Salah satu program yang kami hadirkan adalah Organizational Transformation dan Leadership Series bagi perusahaan dan organisasi yang ingin selalu relevan. Cek Program lengkap kami disini

Tinggalkan Balasan