You are currently viewing Seni Mengenal Diri Sendiri, Modal Awal Menjadi Great Leader

Seni Mengenal Diri Sendiri, Modal Awal Menjadi Great Leader

Ketika kepemimpinan sering kali identik dengan kesan mengarahkan orang lain dan membuat orang lain bertindak dan bergerak atas arahan kita, maka kita fokus pada bagaimana “menaklukan” orang lain. Padahal, riset selama dua dekade terakhir menunjukkan arah yang sebaliknya bahwasanya kepemimpinan yang efektif dimulai dari dalam diri sendiri. Sebelum seseorang mampu menggerakkan tim, apalagi organisasi, ia perlu terlebih dahulu memahami pola pikir, emosi, kekuatan, dan kecenderungan perilakunya sendiri. Inilah sebabnya saat ini, mengenal dan mengidentifikasi kecenderungan kepribadian diri sendiri menjadi soft-skill yang diperlukan untuk para profesional yang akan menduduki jabatan sebagai pemimpin.

Leading Self: Self-Awareness sebagai Fondasi

Organizational psychologist Tasha Eurich, dalam studi berskala besar yang melibatkan hampir 5.000 partisipan dan dipublikasikan di Harvard Business Review, menemukan bahwa meski 95% orang meyakini dirinya cukup mengenal diri sendiri, kenyataannya hanya sekitar 10–15% yang benar-benar demikian. Ia menyimpulkan bahwa self-awareness bukanlah sekadar sifat bawaan atau hasil perenungan sesaat, melainkan kapabilitas kepemimpinan yang bisa dilatih, dan orang yang memilikinya cenderung lebih percaya diri, lebih kreatif, mengambil keputusan yang lebih baik, membangun relasi yang lebih kuat, serta berkomunikasi lebih efektif dibanding yang tidak.

Temuan ini selaras dengan riset klasik Daniel Goleman yang memperkenalkan konsep kecerdasan emosional ke dunia kerja. Berdasarkan penelitiannya terhadap hampir 200 perusahaan besar, Goleman mendapati bahwa kecerdasan intelektual dan keahlian teknis penting, tetapi tidak cukup untuk menjadikan seseorang pemimpin yang efektif. Unsur pembeda utamanya adalah kecerdasan emosional, yang komponen pertamanya justru self-awareness. Tanpa kesadaran akan emosi, nilai, kekuatan, dan kelemahan diri, seseorang akan kesulitan mengelola dirinya sendiri—dan menurut Goleman, kemampuan mengelola diri inilah prasyarat sebelum seseorang bisa mengelola orang lain.

Di titik inilah kemampuan mengenal diri sendiri dan kecenderungan kepribadiannya menjadi berguna secara praktis. Dengan mengetahui kecenderungan gaya kepribadian, seseorang bisa memetakan strategi konkret. Misalnya, seorang dengan kecenderungan kepribadian dominan perlu berlatih kesabaran dan mendengarkan, sementara tipe kepribadian yang cenderung fleksibel dan luwes perlu melatih ketegasan dalam mengambil keputusan cepat. Mengetahui pola diri bukan untuk membatasi, melainkan untuk tahu persis energi mana yang perlu dioptimalkan dan sisi mana yang perlu dikelola.

Leading People: Dari Kesadaran Diri ke Kepekaan pada Orang Lain

Setelah seseorang mampu memimpin dirinya, langkah berikutnya adalah menerjemahkan kesadaran itu ke dalam relasi dengan orang lain. Riset meta-analisis oleh Judge dan Bono terhadap ratusan korelasi dari puluhan sampel menemukan bahwa trait kepribadian tertentu—khususnya ekstrovert—berkorelasi konsisten dengan perilaku kepemimpinan transformasional, yaitu gaya kepemimpinan yang menginspirasi dan memobilisasi tim. Artinya, kepribadian seorang pemimpin memengaruhi bagaimana ia secara alami membangun pengaruh terhadap timnya.

Namun pengaruh ini bekerja dua arah. Pemimpin yang memahami kepribadiannya sendiri akan lebih mudah pula membaca dan menyesuaikan pendekatannya terhadap kepribadian anggota timnya. Inilah alasan pemahaman terhadap pola dan kepribadian semestinya tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi diperluas untuk membaca kecenderungan orang lain. Kemampuan ini mendorong seorang pemimpin menggunakan sejumlah pendekatan yang sesuai dalam memberi instruksi, memotivasi, atau menyampaikan feedback kepada tim dengan beragam tipe kepribadian. Kepemimpinan yang efektif, dengan kata lain, adalah kepemimpinan yang adaptif terhadap keragaman kepribadian di dalam tim, bukan yang menyeragamkan gaya komunikasi untuk semua orang.

Leading Organization: Dari Individu ke Dampak Sistemik

Pada level organisasi, kemampuan memimpin diri sendiri ternyata memiliki dampak yang terukur. Harari dan koleganya melakukan riset self-leadership selama lebih dari dua dekade dan menemukan bahwa strategi memimpin diri sendiri berkorelasi positif dengan kepuasan kerja dan komitmen organisasi, dengan self-efficacy (keyakinan seseorang atas kemampuannya sendiri) sebagai mekanisme utama yang menjembatani keduanya. Semakin seseorang mampu mengelola pikiran, emosi, dan perilakunya sendiri secara konsisten, semakin besar pula kontribusi positifnya terhadap iklim kerja dan kinerja organisasi secara keseluruhan.

Dengan kata lain, rantai kausalitasnya jelas bahwa kesadaran akan kepribadian diri mendorong kemampuan leading self, kemampuan leading self membentuk kepekaan dalam leading people, dan akumulasi dari keduanya bermuara pada efektivitas leading organization. Tidak ada jalan pintas untuk sampai ke level ketiga tanpa melewati dua level sebelumnya.

Seni mengenal diri sendiri merupakan titik tolak yang secara ilmiah terbukti relevan bagi perjalanan kepemimpinan seseorang. Semakin dini seseorang memahami pola dirinya, semakin cepat pula ia dapat merancang strategi personal untuk memimpin diri sendiri, membangun relasi yang efektif dengan timnya, dan pada akhirnya memberi dampak nyata bagi organisasi tempatnya berkarya.

Paramadina x Mizan Continuing and Professional Education adalah Sebuah kolaborasi program pendidikan antara Universitas Paramadina dan Mizan Group yang hadir untuk menjawab kebutuhan upskilling, reskilling, dan refreshing di era global. Setiap program training kami diampu oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, didasarkan pada cutting edge theoretical insights, relevan, dan aplikatif untuk dunia hari ini. Salah satu program yang kami hadirkan adalah Organizational Transformation dan Leadership Series bagi perusahaan dan organisasi yang ingin selalu relevan. Cek Program lengkap kami disini

Tinggalkan Balasan