You are currently viewing Finding The Self: Mengapa Pensiun Menjadi Krisis Identitas Bagi Banyak Profesional

Finding The Self: Mengapa Pensiun Menjadi Krisis Identitas Bagi Banyak Profesional

Perkenalkan, Kim Nak Su seorang  karyawan penuh dedikasi yang telah bekerja selama dua dekade di perusahaan telekomunikasi ternama; ACT, di Korea Selatan. Saat ia hampir menjadi dewan direksi setelah bertahun-tahun menunjukkan performanya sebagai manajer penjualan, ia menghadapi drama dan politik kantor yang memupuskan harapan bahkan membuatnya keluar dari kantor.

Setelah pensiun dini, Nak Su menghadapi kehidupan yang sangat berbeda. Bukan hanya krisis finansial, tetapi juga krisis identitas.

 Sosok Kim Nak Su (diperankan oleh Ryu Seung Ryong)  ini bisa Anda saksikan dalam  serial The Dream Life of Mr. Kim.  Bukan sekadar drama, serial ini mendapatkan perhatian dari masyarakat Korea Selatan—juga dunia—karena memberikan gambaran paling realistis tentang seorang profesional yang menjalani kehidupan pasca pensiun, tantangan-tantangan dan refleksi yang menyertainya.  

Peran dan Jabatan Sebagai Identitas

Dalam banyak budaya Asia, termasuk Indonesia, pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan. Ia juga menjadi identitas yang melekat pada diri kita. Ketika memperkenalkan diri, seseorang sering kali menyebutkan profesi yang menggambarkan peran dan jabatan dalam pekerjaan. Misalnya, “Saya dosen”, “Saya manajer”, “Saya direktur”, atau “Saya bekerja di perusahaan X”. Tanpa disadari, peran dan jabatan berubah menjadi cara kita menjelaskan siapa diri kita kepada orang lain, bahkan kepada diri sendiri.

Fenomena ini digambarkan secara apik melalui karakter Kim Nak Su dalam drama The Dream Life of Mr. Kim. Dalam salah satu dialog, Kim Nak Su mengatakan dirinya adalah anggota ACT (perusahaannya) saat atasannya menyampaikan rencana memindahkan dirinya ke divisi lain. Saat ia memutuskan pensiun diri, Nak Su mulai menyusun ulang pemahaman tentang siapa dirinya. Ia melepas status dan simbol yang selama ini tersemat dalam identitasnya sebagai bagian dari perusahaan tempatnya bekerja selama lebih dari 25 tahun.

Selain itu, Nak Su mulai terhubung kembali dengan realitas di sekitarnya—yang terdekat adalah dengan keluarganya. Selama bekerja, Nak Su tidak memisahkan identitas korporatnya saat berada di rumah. Sehingga, ia sangat sulit membantu pekerjaan domestik yang dilakukan oleh istrinya. Namun saat pensiun, Nak Su melakukan rekonsiliasi dengan keluarganya dan mulai terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan domestik bersama istri dan anaknya.

Ketika Pekerjaan Menjadi Struktur Kehidupan

Dalam bukunya Retiring: Creating a Life That Works for You, Teresa M. Amabile bersama rekan-rekannya meneliti pengalaman para profesional yang memasuki masa pensiun. Tim peneliti mengikuti perjalanan 14 orang profesional sejak beberapa bulan sebelum pensiun hingga beberapa tahun setelahnya, serta mewawancarai lebih dari 100 profesional lain dari berbagai usia. Fokus mereka bukan pada mereka yang terpaksa tetap bekerja karena alasan ekonomi, tetapi pada para profesional yang sebenarnya telah memiliki kondisi keuangan yang cukup untuk pensiun.

Hasilnya cukup mengejutkan. Banyak di antara mereka justru merasa takut menghadapi pensiun. Bukan karena khawatir kehilangan penghasilan, melainkan karena tidak tahu bagaimana menjalani kehidupan setelah pekerjaan yang selama puluhan tahun membentuk ritme hidup mereka berakhir. Bagi banyak profesional, pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan. Pekerjaan juga memberi struktur.

Setiap hari seorang profesional memiliki pola yang jelas; ada rapat yang harus dihadiri, target yang harus dicapai, rekan kerja yang ditemui, hingga rutinitas yang terus berulang dari Senin hingga Jumat. Bahkan bagi sebagian orang, pekerjaan mengisi sebagian besar ruang pikirannya, termasuk pada malam hari atau akhir pekan. Ketika semua itu berhenti, yang hilang bukan hanya pekerjaan, tetapi juga struktur kehidupan (life structure).

Saat Nak Su meninggalkan pekerjaannya, digambarkan sebagian dirinya hilang. Ia biasa memulai hari dengan bersiap ke kantor, sarapan dan pergi ke kantor. Hari-harinya diisi dengan bekerja di kantor hingga larut malam. Setelah pensiun, Nak Su kesulitan beradaptasi dengan ritme baru yang terasa lebih panjang karena memiliki waktu luang lebih banyak.

Proses adaptasi dengan kebiasaan baru dialami oleh hampir seluruh kalangan profesional yang menjalani masa pensiun. Memiliki waktu sedikit lebih lengang untuk dinikmati mungkin kesenangan sebagian besar karyawan. Namun jika berlangsung lama dan permanen, alih-alih menikmatinya, profesional yang menjalani masa pensiun justru terjebak pada kebosanan, diliputi perasaan hampa dan bingung, serta kehilangan arah.

Saat Nak Su meninggalkan pekerjaannya, digambarkan sebagian dirinya hilang. Ia biasa memulai hari dengan bersiap ke kantor, sarapan dan pergi ke kantor. Hari-harinya diisi dengan bekerja di kantor hingga larut malam. Setelah pensiun, Nak Su kesulitan beradaptasi dengan ritme baru yang terasa lebih panjang karena memiliki waktu luang lebih banyak.

Proses adaptasi dengan kebiasaan baru dialami oleh hampir seluruh kalangan profesional yang menjalani masa pensiun. Memiliki waktu sedikit lebih lengang untuk dinikmati mungkin kesenangan sebagian besar karyawan. Namun jika berlangsung lama dan permanen, alih-alih menikmatinya, profesional yang menjalani masa pensiun justru terjebak pada kebosanan, diliputi perasaan hampa dan bingung, serta kehilangan arah.

Tantangan Psikologis

Tantangan psikologis lainnya yang kerap menimpa seorang profesional saat menjalani masa pensiun adalah hilangnya rasa berguna (sense of usefulness), berkurangnya kepercayaan diri, kesepian, hingga kecemasan terhadap masa depan. Selama bertahun-tahun, pekerjaan memberikan banyak fungsi psikologis yang sering kali tidak disadari. Selain menghasilkan pendapatan, pekerjaan membuat seseorang merasa dibutuhkan, memberi tujuan yang jelas setiap hari, menyediakan lingkungan sosial, sekaligus menjadi ruang untuk memperoleh pengakuan atas kemampuan yang dimiliki. Ketika pekerjaan itu berakhir, berbagai fungsi tersebut ikut menghilang secara bersamaan.

Tidak mengherankan apabila sebagian pensiunan mengalami masa-masa yang menyerupai proses berduka (grieving). Mereka tidak sedang kehilangan seseorang, tetapi kehilangan rutinitas, status sosial, komunitas, dan versi diri yang telah mereka bangun selama puluhan tahun. Dalam beberapa kasus, kondisi ini berkembang menjadi stres, kecemasan, bahkan depresi ringan apabila seseorang kesulitan menemukan kembali makna hidup setelah pensiun.

Drama The Dream Life of Mr. Kim menggambarkan proses tersebut dengan sangat manusiawi. Pada awal masa pensiunnya, Nak Su beberapa kali terlihat kebingungan mengisi hari-harinya. Ia tidak lagi menerima telepon dari rekan kerja, tidak lagi dikejar target penjualan, dan tidak lagi memiliki kontrol pada orang lain yang membuat pendapatnya selalu didengar. Kekosongan itu membuatnya beberapa kali berusaha mempertahankan identitas lamanya sebagai seorang pekerja, sebelum akhirnya perlahan menerima bahwa kehidupan baru menuntut definisi baru tentang dirinya. Perubahan terbesar yang dialaminya bukanlah berpindah dari kantor ke rumah, melainkan berpindah dari identitas sebagai “karyawan ACT” menjadi seorang individu yang kembali menemukan makna hidup melalui keluarga, relasi, dan aktivitas di luar pekerjaan.

Empat Tugas Besar dalam Masa Pensiun

Penelitian Teresa M. Amabile dalam buku Retiring: Creating a Life That Works for You, menjelaskan meskipun setiap orang memiliki cara pensiun yang berbeda, hampir semua orang menghadapi empat tantangan yang sama. Pertama, memutuskan kapan dan bagaimana pensiun. Sebagian orang berhenti bekerja sekaligus, sementara yang lain memilih mengurangi jam kerja secara bertahap. Kedua, melepaskan identitas profesional. Inilah fase yang oleh Amabile disebut sebagai tantangan paling berat. Banyak orang telah begitu lama mendefinisikan dirinya melalui pekerjaannya sehingga sulit membedakan antara “apa yang saya kerjakan” dan “siapa diri saya”. Ketiga, mencoba berbagai aktivitas baru untuk membangun struktur kehidupan yang baru. Masa pensiun bukanlah keadaan yang langsung stabil. Banyak orang perlu bereksperimen dengan berbagai kegiatan sebelum menemukan rutinitas yang benar-benar sesuai. Keempat, membangun kehidupan pensiun yang stabil secara psikologis. Setelah melalui berbagai percobaan, seseorang perlahan menemukan pola hidup baru yang memberikan rasa bermakna, hubungan sosial yang sehat, dan aktivitas yang memuaskan.

Keempat tahap ini menunjukkan bahwa pensiun bukanlah sebuah peristiwa yang selesai pada hari terakhir bekerja. Ia merupakan sebuah proses adaptasi yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Sering kali tantangan kehidupan pascapensiun tidak sekedar kurangnya persiapan finansial, melainkan karena seseorang belum sempat mempersiapkan kehidupan yang ingin ia jalani setelah tidak lagi bekerja. Oleh karena itu, mempersiapkan masa pensiun seharusnya tidak hanya menghitung dana pensiun atau investasi, tetapi juga mulai membangun identitas di luar pekerjaan, memperluas jejaring sosial, mengembangkan minat baru, serta terus belajar sepanjang hayat. Pada akhirnya, pensiun bukanlah tentang berhenti menjadi produktif, melainkan tentang menemukan kembali cara yang berbeda untuk tetap bertumbuh, berkarya, dan menjalani kehidupan yang bermakna

Pelatihan Persiapan Pensiun Bagi Karyawan

Masa pensiun merupakan salah satu fase penting dalam perjalanan karier karyawan. Persiapan yang tepat tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga memperkuat citra perusahaan sebagai organisasi yang peduli terhadap kesejahteraan karyawan hingga masa transisi.

Oleh karena itu, program Preparing for Meaningful Retirement: Survive, Transition & Thrive dari Paramadina x Mizan Continuing and Professional Education dirancang untuk membantu calon pensiunan mempersiapkan diri secara holistik, meliputi aspek psikologis, kesehatan, finansial, serta makna hidup. Bagi Anda yang mengikutsertakan perusahaan Anda dalam program ini bisa mendapatkan informasinya disini.[]

Tinggalkan Balasan