Pengetahuan itu menyelamatkanmu. Bertahun-tahun kita percaya kata-kata tersebut. Banyak ahli, ilmuwan, penulis, tokoh dunia terkenal yang menyatakan bahwa pengetahuan memberikan kita kekuatan untuk bertahan, bertindak, dan terus eksis. Sayangnya, dunia yang semakin cepat melaju dan penuh kepastian menegasikan itu semua. Ada banyak pengetahuan yang alih-alih menyelamatkan, justru menyesatkan.
Pengetahuan Berbatas Waktu: Bisa Usang dan Tak Lagi Relevan
Pada akhir 1990-an, ketika kebanyakan orang masih pergi ke toko rental untuk meminjam DVD dan takut terkena denda keterlambatan, sebuah perusahaan kecil menawarkan cara yang terasa lebih praktis: orang cukup memesan film lewat layanan email, lalu DVD dikirim langsung ke rumah. Ide itu sederhana, tetapi perlahan berhasil. Pelanggan menyukai kenyamanannya. Bisnis tumbuh. Model mereka bekerja.
Namun di tengah pertumbuhan itu, sang pendiri justru melihat sesuatu yang belum dianggap serius banyak orang: internet yang akan menjadi jauh lebih cepat dibandingkan layanan email. Ia membayangkan masa depan ketika orang tidak perlu lagi menunggu DVD datang lewat pos karena film bisa langsung diputar saat itu juga.
Di situlah dilema besarnya muncul. Jika prediksi itu benar, maka bisnis yang selama ini membuat mereka sukses justru akan menjadi usang. Semakin besar bisnis DVD mereka, semakin sulit keputusan berikutnya: mempertahankan model lama yang masih menghasilkan uang, atau mempertaruhkan semuanya pada sesuatu yang belum pasti.
Banyak perusahaan gagal mengambil langkah seperti ini. Mereka terlalu nyaman dengan kesuksesan lama. Tetapi perusahaan kecil itu memilih berubah. Mereka mulai berinvestasi pada layanan streaming bahkan ketika internet dunia belum sepenuhnya siap. Bertahun-tahun kemudian, toko rental film menghilang tanpa sisa. Dan, perusahaan kecil pengirim DVD yang berubah secara intuitif itu dikenal dunia saat ini dengan nama Netflix.

Kisah Netflix menunjukkan bahwa pengetahuan terus bergerak, bisa expired, dan tidak lagi relevan. Model rental DVD memang pernah menjadi inovasi besar, bahkan tren di masanya. Tetapi perubahan teknologi internet perlahan membuatnya usang. Tantangan terbesar sering kali bukan menemukan hal baru, melainkan menyadari kapan cara lama sudah tidak lagi cukup. Banyak individu maupun organisasi gagal bukan karena tidak pernah sukses, tetapi karena terlalu melekat pada keberhasilan masa lalu. Mereka mengira apa yang berhasil hari ini akan tetap bekerja di masa mendatang. Padahal, dunia berubah dengan cepat. Tren, minat, dan perilaku orang mengubah konteks di masa mendatang secara drastis.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, banyak orang masih percaya bahwa pengalaman adalah jaminan relevansi. Padahal, sejarah justru menunjukkan sebaliknya: pengalaman bisa menjadi kekuatan, tetapi juga bisa berubah menjadi jebakan ketika seseorang terlalu percaya bahwa cara lama akan selalu berhasil. Inilah mengapa konsep learn, unlearn, relearn menjadi semakin penting sebagai cara pandang hari ini dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bisnis.
Learn, Unlearn, dan Relearn sebagai Sebuah Proses Adaptasi
Kisah Netflix memperlihatkan bagaimana proses learn, unlearn, dan relearn bekerja secara nyata dalam menghadapi perubahan zaman dan perkembangan teknologi. Proses ini menjadi penting karena dunia terus bergerak, sementara pengetahuan, strategi, dan kebiasaan lama bisa menjadi usang tanpa kita sadari.
Pada fase awal, Netflix menjalani proses learn. Mereka belajar memahami perilaku masyarakat pada akhir 1990-an: orang ingin menikmati film dengan lebih praktis tanpa harus datang ke toko rental atau terkena denda keterlambatan. Dari pemahaman itu, mereka membangun layanan pengiriman DVD melalui internet dan pos. Model ini berhasil karena relevan dengan kebutuhan masyarakat pada masanya.

Namun, ketika bisnis mereka sedang tumbuh, muncul perubahan besar dalam perkembangan internet. Sang pendiri melihat bahwa suatu hari orang tidak lagi ingin menunggu DVD datang ke rumah karena film bisa langsung ditonton secara instan melalui internet. Kenyataan bahwa orang-orang akan meninggalkan kebiasaan menyewa DVD inilah proses unlearn; menyadari bahwa sebuah realita, sebuah tren mulai bergeser; berubah.
Netflix menyadari bahwa keberhasilan lama tidak selalu bisa menjadi jawaban untuk masa depan. Mereka harus melepaskan keyakinan bahwa bisnis DVD adalah inti utama perusahaan mereka. Ini bukan keputusan mudah, karena model lama justru sedang menghasilkan keuntungan besar. Tetapi mereka memahami bahwa terlalu melekat pada kesuksesan masa lalu bisa membuat perusahaan tertinggal.
Setelah itu, Netflix memasuki proses relearn. Mereka belajar ulang tentang bagaimana manusia menikmati hiburan di era digital. Mereka mulai membangun layanan streaming, memahami perilaku penonton melalui data, mengembangkan sistem rekomendasi, hingga akhirnya memproduksi film dan serial original sendiri. Netflix tidak lagi melihat dirinya sekadar sebagai perusahaan pengiriman DVD, tetapi sebagai perusahaan teknologi dan hiburan digital.
Kisah ini menunjukkan bahwa learn, unlearn, dan relearn bukan sekadar teori pengembangan diri. Ketiganya adalah kemampuan untuk tetap adaptif di setiap era. Belajar membuat kita relevan dengan kebutuhan zaman. Melepaskan cara lama membuat kita tidak terjebak nostalgia kesuksesan masa lalu. Dan belajar ulang membantu kita membaca masa depan sebelum perubahan benar-benar memaksa kita berubah.
Mengapa Siklus ini Penting?
Learn, unlearn, dan relearn sebagai sebuah proses, siklus, bahkan cara pandang yang perlu diterapkan dalam segala aspek kehidupan, termasuk bisnis. Konon, tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali ketidakpastian itu sendiri. Perubahan menjadi kata kuncinya. Didorong oleh perubahan teknologi dan sosial yang bergerak sangat cepat saat ini membuat pengetahuan memiliki “umur” yang semakin pendek.

Untuk bisa bertahan dan berkembang, seseorang perlu terus mempelajari keterampilan baru (learn), melepaskan kebiasaan serta asumsi lama yang sudah tidak relevan (unlearn), lalu membangun kembali pendekatan baru yang lebih sesuai dengan konteks zaman (relearn). Kemampuan beradaptasi ini menjadi sangat penting agar tetap relevan di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.
Mengapa siklus ini penting? Pertama, pengetahuan dan keterampilan cepat usang. Perkembangan teknologi, terutama AI, otomatisasi, dan komunikasi digital, mengubah cara manusia bekerja dan hidup secara fundamental. Keterampilan atau sistem yang dulu membuat seseorang sukses bisa berubah menjadi “utang keterampilan” (skills debt) yang justru menghambat pertumbuhan di masa depan.
Kedua, bahaya pola pikir yang terlalu kaku. Berpegang terlalu erat pada cara berpikir lama atau prosedur yang sudah usang dapat menjadi penghalang inovasi. Dunia terus berubah, sehingga seseorang perlu bersedia menghapus strategi lama dan membangun pendekatan baru sesuai realitas yang berkembang.
Ketiga, kelenturan berpikir menjadi kemampuan penting. Otak manusia secara alami cenderung mempertahankan kebiasaan yang familiar. Karena itu, mengubah perilaku sering kali terasa sulit. Dengan melatih proses learn, unlearn, dan relearn secara sadar, seseorang melatih dirinya untuk keluar dari pola yang tidak lagi efektif dan lebih siap menghadapi ketidakpastian, alih-alih terus menolaknya.
Untuk mulai membangun pola pikir baru dan melepaskan kebiasaan lama yang tidak lagi relevan, langkah pertama sering kali bukan mencari jawaban baru, melainkan berani mempertanyakan apa yang selama ini kita anggap paling benar. Dengan begitu, proses berkembang tidak lagi dipandang sebagai tujuan sekali jadi, melainkan sebagai siklus yang terus bergerak dan diperbarui sepanjang hidup.